Si Kulup Tetaplah Orang Kampung

Si Kulup Tetaplah Orang Kampung

Badanya kurus tegap, dengan kulit berwarna hitam seperti badan yang pandai bekerja keras, berjalan dengan tegap meskipun kelihatanya ia kurus. inilah Kulup namanya khas orang kampong walaupun ia telah beristri tetap saja kurus. Tampang anak kampung seperti si Kulup tidaklah terlihat oleh orang-orang sebab Kulup pandai menjaga penampilan dengan rambut disisir kesamping kiri dengan style anak kota, anehnya warna kulit kulup ini hitam namun matanya cipit bak mata orang Korea dicampur dengan warna kulit khas orang afrika, entah ngidam apa emak kulup ketika mengandung si Kulup.

Kulup mantap dengan pilihanya, setelah ia wisuda dari salah satu universitas di luar kota dekat dengan kotanya. Kulup langsung meminang salah satu wanita yang pernah menjadi temanya di kala SD, cinta Kulup baru terealisasikan kepada gadis itu setelah ia lulus. Maklum Kulup sudah ada umur untuk menikah, hasratnya ingin beristri sudah ada sejak ia duduk di bangku kuliah, selang beberapa bulan ia telah menjadi sarjana dan juga telah mendapat kerja diungkapkanlah rasanya itu kepada kedua orang tuanya untuk melamar gadis pujaan Kulup kalau diibaratkan rasa si Kulup ini bak lahar yang ingin meleleh dari gunung kalimanjoro. Setelah beberapa hari Kulup menikahi istrinya itu “Biung” nama panggilan istri Kulup panjangnya Siti Biung, bentuk tubuhnya kurus namun tak sekurus tubuh istrinya Popeye, matanya bulat tak cipit, warna kulitnya putih jikalau dicampur dengan warna kulit Kulup maka jadilah kopi susu yang saling melengkapi, Biung berkerudung pokonya beruntunglah Kulup mendapat Biung. Tak tanggung-tanggung saat resepsi pernikahan Kulup dan Biung bukan main meriahnya pesta itu, segala makanan enak versi hotel bintang enam pun tersedia. Hitung-hitungan setelah resepsi pernikahan Kulup, 1 hektar sawah lenyap dan 2 ekor kerbau telah wafat menjadi korban dalam segala olahan makanan, maklumlah Kulup anak tunggal orang tuanya, si empunya kebun karet dan sawah, untung sedikit saja sawah yang lenyap bukan semua. Kulup gengsi jika bekerja di kampung hanya mengurus kebun orang tuanya padahal pas betul jika ia mengurus kebon orang tuanya karena Kulup sebagai seorang sarjana pertanian akan bisa mengaplikasikan ilmunya itu. Kenyatanya ia memilih bekerja diluar kampung sebagai asisten bosnya, cukup baguslah jabatan Kulup ini, menurut hemat Kulup tak berkembang jika ia hanya berada di kampung dan bekerja di kampung.

Tibalah hari Kulup pamit kepada istri, orang tuanya serta mertuanya dengan sebuah backpacker  dibelakang punggung, pergilah Kulup dihari itu mengendarai motor dengan modifikasi tinggi ala motor anak jaman sekarang dan tinggalah istri Kulup si Biung yang tinggal dengan orang tuanya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulang berganti bulan, sejak keberangkatan Kulup yang bekerja tak kunjung pulang kerumah, yang ada hanya kabar via handphone dari Kulup kalau Kulup baik-baik saja, tenanglah pula orang tua Kulup, Biung istrinya, mertuanya serta keluarganya.
Si Biung istrinya khawatir kenapa tak kunjung pulang si Kulup karena janji awalnya akan pulang pada tanggal yang telah di janjikan, hendak Biung menyusul namun takut beberapa hari ke depan Kulup pulang ke rumah. Gerangan Kulup sebab tak pulang kampung tak lain karena ia dipecat  dari PT tempat ia bekerja, ia tertuduh kalau melakukan  penggelapan uang di PT itu, ditambah lagi PT itu hampir bangkrut karena sejumlah kemarut persoalan ditempat kerjanya. Sakit menimpa, sesak terlambat itulah yang dialami Kulup, tak ada guna sesali sesuatu yang telah menimpa dirinya. Gengsi Kulup mengalahkan keinginanya untuk pulang ke kampung, memilih untuk mencari pekerjaan lagi alhasil dapatlah Si Kulup pekerjaan di toko milik orang cina, mau tak mau Kulup menerima pekerjaan sebagai jabatan seorang kasir sayangnya Cuma 3 hari Kulup  bertahan disana karena tak sanggup ia yang menjadi babu , disuruh ini dan itulah.

Rindu berat Kulup dengan keluarganya terutama istrinya, sakit hati Kulup belum hilang karena pekerjaan pertamanya berakhir dengan tuduhan yang sama sekali tidak benar dan pekerjaan keduanya ini sangat tak enak jadi babu orang, itulah yang dirasakan Kulup. Berpikir panjanglah Kulup malam menjelang subuh itu, diputuskanya untuk pulang kampong, diberitakanya lah perihal ia akan pulang kampong kepada istrinya.

Sampai di kampung tak mau Kulup ceritakan perihal ia pulang agak lama dari perkiraan yang ia sebutkan pada istri dan keluarganya. Sekiranya malu dan gengsi Kulup ceritakan musibahnya itu dan tingggalah Kulup sekarang di kampung termakan gengsinya yang akan terjun dengan pekerjaan baru yaitu mengolah kebun milik orang tuanya, ibarat pepatah “sejauh-jauh merantau akhirnya pulang juga ke kampung halaman” Kulup tetaplah orang kampung, orang yang pernah gengsi untuk bekerja di kampungnya sendiri.

Komentar