KERUDUNG PUTIH

Terik matahari memancarkan jelas cahaya panas mengeringi jemuran, dahsyatnya dengan hitungan jam beberapa jemuran itu sudah kering seperti kerupuk, berbeda dengan kerudung putih yang tak kunjung lama berada dijemuran. Krak..krak…bunyi kapak yang akan membelah kayu besar itu dan kayu itupun terbelah menjadi dua bagian. Mak….mak….tidakkah mak lihat kerudung putihku mak, anisa menghela nafas tergesa-gesa memanggil emaknya. Suara kapak yang akan menghantam kayu, serentak terhenti karena panggilan anisa. Bentuk rumah panggung yang semua materialnya kayu membuat suara terdengar nyaring keluar terdengar, untungnya dibuat dengan kokoh kalau tidak sudah roboh akibat hentakan kaki anisa yang lari kesana kemari. Emak dari laman depan pun menoleh ke anisa dengan mata luyuh bak rumput yang terkena angin menjawab , mak tidak melihat kerudungmu cobalah cari lebih teliti lagi nisa. Sudah lelah aku mencari kemanapun dibagian rumah ini, namun tak Nampak batang hidung kerudungku itu omel anisa. Emak berhenti sejenak membelah setumpuk kayu bakar, teringat masa-masa dimana masih ada abah sang suami yang menemani suka duka emak, tetapi tetaplah syukur dan nikmat selalu mak dan abah ucapkan kepada allah swt. Emak menitikkan air mata yang bercampur keringat yang bercucuran dibagian keningnya. Mengapa engkau cepat sekali menggambil dirinya ya rabb, disaat anak kami satu-satunya sudah mengenal arti kehilangan dan kasih sayang sejati dari orang tuanya, keluh emak dalam hatinya. Anisa yang sibuk sendiri dari tadi tidak kunjung menemukan kerudungnya yang mau ia kenakan untuk ke sekolah. Tiba-tiba membuka tasnya… Masyaallah.. aku sudah mencarimu ke mana-mana kerudung rupanya kau bersembunyi ditas sekolahku kata anisa lagi lagi mengoceh.Jam sudah menunjukkan 07.00 , anisapun buru-buru pergi ke sekolah yang cukup menelan waktu perjalanan setengah jam dari rumah ke sekolahnya dengan segera dia memakai sepatunya dan berpamitan dengan emak yang duduk terpaku akan lamunan. Anisa pergi dulu mak…..”kata anisa. Ya,,,,hati-hati, jangan kau singgah ke mana-mana sesudah pulang nisa, balas emak. Entah apa yang emak pikirkan akhir-akhir ini sering melamun, batin nisa. Nisa melanjutkan perjalanan kesekolahnya, dengan kerudung putih yang ia pakai terlihat cantik dikepalanya pemberian abah yang selalu di jaga anisa. Pesan terakhir yang anisa selalu ingat dari abah” untuk selalu menjaga emak sampai maut memisahkan ia dan emaknya untuk bertemu diakhirat kelak. Hari ini memang memang membuat anisa sangat senang dan gembiranya untuk melihat daftar pengumuman kelulusan di smpnya, apalagi hari libur yang sudah menunggu dan mengucapkan selamat datang kepada anisa. Anisa pulang kerumah dengan muka manis seperti jeruk manis yang akan siap dinikmati. Aku lulus mak, kemana lagi aku akan menyambung cita-citaku ini, kata anisa. Tentunya kau akan melanjutkan ke sma lagi nak, selama mak belum menghampiri bapakmu kau pasti akan terus mengejar cita-citamu, jawab emak dengan batuk yang keras berulang-ulang kali. Kenapa mak berbicara seperti itu mak, sela nisa. Makpun hanya terdiam. Aku tahu pasti ini penyakit emak yang ia dapat berapa tahun belakangan ini , penyakit yang dinamakan keracunan adom, adom seperti bentuk racun yang mungkin sudah di gunakan orang dusun untuk membalaskan dendamnya secara diam-diam, inilah dunia sekarang manusia juga ingin membunuh manusia. Entahlah… anisapun membawa secangkir air putih lalu memberikan kepada emaknya yang duduk ditikar rumbai nan molek. Mak..memak kapan anisa melihat mak sehat seperti dulu lagi, lihat wak muna disebelah rumah kita ini tubuhnya masih tegap saja,kata anisa Hmmmm…..anisa menghela nafas panjang. Semakin senja hari, matahari tertutup dengan suasana petang yang mulai gelap, nisa duduk didekat anak tangga rumahnya karena rumah anisa panggung yang bangunanya tidak terlalu tinggi jadi hanya ada beberapa anak tangga yang terpasang dirumahnya. Dirumah saja memang membosankan begitulah anisa dan emaknya, sejak ditinggal abahnya 3 tahun lalu yang biasa ia lakukan adalah menjaga dan ingin selalu membuat hati emaknya senang. Hampir 3 minggu sudah anisa dirumah, tak ada kerjaan lain yang ia lakukan selain membantu pekerjaan rumah dan menemani emaknya, rencana besok adik kandung emak beserta suaminya akan datang kerumahnya ntah untuk keperluan apa namun itu akan membuat kesepian dirumah anisa sedikit terobati. Keesokan harinya, dimana hari ini mekdo halimah begitulah panggilan budaya jambi kepada adik bungsu emaknya “ketokan pintu terdengar dari pintu depan. Assalamualaikum… assalamualaikum.. Anisa menghampiri pintu depan dan membukanya ,emakpun menyusul dari belakang. Waalaikumsallam,, sahut anisa dengan emaknya. Mekdo,..pakdo,,wina kata anisa menyambut kedatangan mereka dengan girang .. ayo masuk-masuk jawab emak nisa. Ha,, “ sudah bertambah besar kau nisa, kata pakdo. Semua duduk ditikar rumbai yang masih kental akan ketradisionalanya yang dibuat sendiri oleh emak, memang orangtua jaman dulu sangatlah kreatif. Nisa menghidangkan teh panas seadanya. Apa kabar sekarang yuk , ucap mekdo halimah bertanya ke emak anisa Seperti inilah keadaan ayuk sekarang, balas emak nisa Kenapa ayuk tak segera periksa kedokter yuk ,ini semua untuk kesehatan ayuk ucap pakdo samsyu. Setelah berbicara cukup lama, pakdo, mekdo dan wina pun istirahat. Hari demi hari tampak emak keadaanya tidak membaik akibat batuk yang tak pernah hilang, emak menyembunyikan penyakitnya, batuk yang sudah bercampur dengan darah, sengaja tak emak bilang ke anisa’’ takut akan kesedihan anisa apalagi anisa tanggal lahir anisa yang semakin dekat, emak ingin member sesuatu kepada anisa supaya selalu ingat akan pemberian abah dan emaknya. Mekdo, pakdo dan wina melihat bagaimana sikap mak anisa seperti menyembunyikan sesuatu dari penyakitnya. Anisa sudah membujuk mak untuk memeriksa ke dokter namun emak selalu bilang tidak ada apa-apa. Tiba hari dimana tanggal kelahiran anisa dilahirkan , mak sudah mempersiapkan sesuatu untuk nisa. Semua berkumpul diruang depan menikmati pisang goreng dengan teh hangat”. Tiba-tiba suara batuk mak terdengar sekali mebuat the yang ada ditangan emak tumpah membasahi tikar rumbai yang indah itu. Anisa panik begitupun yang lain , pakdo dan mekdo pun mengangkat emak anisa kedalam kamar. Mengapa mak seperti ini mak dengan wajah yang sangat panik dan air mata yang sedikit lagi jatuh kepipinya. Uukkk…uhukk…. Suara batuk terdengar lagi dari emak dan sedikit darah keluar dari mulut emak. Sampai jam 8 malam keadaan mak juga belum membaik, nafas emak sedikit demi sedikit semakin hilang. Anisa,,, anisa sahut emak dengan suara teputus-putus . Ya, mak jawab anisa dengan wajah yang sudah banjir akan tangisan . Pakdo , mekdo dan wina sudah berkumpul didalam kamar melihat mak anisa yang keadaanya memburuk. Ini untukmu nak , dan bukalah nanti ucap emak. Apa yang ada dalam kotak ini mak “ balas anisa Mak rasa inilah akhir kamu menjaga mak, mak akan bertemu abah kamu secepatnya. Isak Tangis tak terbendung oleh anisa mengubah suasana kamar menjadi gelap tak ada warna lagi tersisa. Mak….makkk “teriakan anisa Pakdo , mekdo dan wina tak hentinya menghapus air mata yang seakan turun sendiri bak air terjun yang sedan sedih. Kata terakhir “la illahaillallah wa asyhaduannamuhammadarasulullah” yang menjadi bisikan terakhir untuk emak , perlahan mata sayu itu menutup kedua bola mata itu seutuhnya. Anisa berlari kearah kamarnya mengambil kerudung putih pemberian abahnya lalu menutupi bagian kepala emak. Disaat itupun anisa membuka kotak pemberian emak dan betapa terkejutnya anisa melihat isi kotak itu kerudung putih sama seperti pemberian abah, dengan rintihan tangis yang tersedu-sedu. Mengapa kerudung ini seakan gelap, apakah manusia juga akan mengalami kehilangan warna disaat kegelapan datang” batin anisa sambil menciumi dan memegang erat kerudung putih pemberian emak. please don't be silent reader, if you want to help me, comment yah guys!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Rindu Nyai

MY POETRY ,I HOPE I CAN MAKE IT COME TRUE "LOVE YOU MOM THE BEST EVER"