KERUDUNG PUTIH
Terik matahari memancarkan jelas cahaya panas mengeringi jemuran, dahsyatnya dengan hitungan jam beberapa jemuran itu sudah kering seperti kerupuk, berbeda dengan kerudung putih yang tak kunjung lama berada dijemuran. Krak..krak…bunyi kapak yang akan membelah kayu besar itu dan kayu itupun terbelah menjadi dua bagian. Mak….mak….tidakkah mak lihat kerudung putihku mak, anisa menghela nafas tergesa-gesa memanggil emaknya. Suara kapak yang akan menghantam kayu, serentak terhenti karena panggilan anisa. Bentuk rumah panggung yang semua materialnya kayu membuat suara terdengar nyaring keluar terdengar, untungnya dibuat dengan kokoh kalau tidak sudah roboh akibat hentakan kaki anisa yang lari kesana kemari. Emak dari laman depan pun menoleh ke anisa dengan mata luyuh bak rumput yang terkena angin menjawab , mak tidak melihat kerudungmu cobalah cari lebih teliti lagi nisa. Sudah lelah aku mencari kemanapun dibagian rumah ini, namun tak Nampak batang hidung kerudungku itu omel anisa. E...